Pages

take me back!

 
“siapa yang bisa melunakkan si kepala batu sepertimu?”  “No more reman!” haha menohok! Itu kalimat dari dua orang kuncian ku, yang benar-benar mengerti aku.

Ya, seharusnya aku memang batu. Sulit bagiku untuk menerima kekalahan, aku tak tau bagaimana caranya mengalah. Aku harus selalu berada dipihak yang benar. Aku juga ‘bossy’, segalanya harus berada dibawah kendaliku, semua harus aku yang menentukan, tak masalah jika aku harus repot sendirian, asal semuanya berakhir sesuai dengan mauku. Kadang memang membuat orang2 disekelilingku menjadi ‘snewen’, tapi yaa begitulah aku. Aku nyaman dengan aku yang seperti itu, dan aku rasa orang-orang terdekatku juga pasti bisa memahami ku.Mereka yang telah lama mengenalku, pasti tau betul bagaimana cara menghadapi aku. Nada bicaraku memang bernada tinggi, cenderung kasar, mungkin lebih tepatnya ketus. Orang-orang yang baru mengenalku sering kubuat tersinggung. Haha . Namun, bagi mereka yang telah benar-benar mengenalku, takkan mungkin tersinggung dengan cara bicaraku yang memang seperti itu.

Aku agak lupa dengan bagaimana caranya menangis. Kalau hanya sekedar sedih, sering  aku rasakan, namun menangis? Nanti dulu! Seberat apapun masalah menimpaku, aku bisa menyikapi dengan mudah, tanpa perlu ber-melow2.  Aku benci air mata! Aku paling tidak suka menangis!

Mereka menjulukiku Si Kepala Batu. Ada juga yang menjulukiku ‘reman’, karena tak ada seorangpun yang berani menentang jika sudah menjadi mauku, laki-laki sekalipun. Mereka nurut saja jika ‘bossy’ ku keluar, bukan karena takut, lebih tept jika dikatakan bahwa mereka malas berdebat denganku, karna sudah pasti takkan bisa mematahkan mauku dan lagi membuat telinga mereka pekak akibat polusi suara yang kubuat.  Aku tidak tersinggung dengan julukan2 itu. Tidak juga bangga, tidak sedikitpun. Aku terima saja, toh memang begitulah aku adanya.

Namun, itu dulu. Yaa, dulu, ketika aku berada jauh d wilayah perbatasan indonesia. Daerah yang tidak mengunggulkan gotong royong. Awalnya aku tidak sekeras itu, keadaan yang memaksaku untuk menjadi pribadi yang lebih keras, agar aku tidak terinjak-injak, agar aku tidak terlecehkan, agar aku tidak dipandang sebelah mata.

Sekarang, aku harus merubah segalanya. Tapi, Hei, tidak ada yang benar-benar memaksaku untuk berubah sebenarnya. Aku hanya berusaha beradaptasi dengan lingkunganku yang sekarang. Lingkungan yang penuh keramahan, ke-akraban, dan bertatakrama. Aku mencoba melunakkan hatiku, untuk lebih terbuka, lebih mau menerima bahwa aku tak selamanya benar. Disini, semuanya aku lunakkan, ya, semuanya! Aku sudah jarang berbicara ketus. Aku mulai bisa terdiam lama, mendengar keluhkesah oranglain sepanjang apapun itu (faktanya dulu aku sangat cerewet). Aku mulai bisa mengalah. Bahkan kini aku sangat cengeng, ya cengeng, aku benar-benar mudah menangis. Sedikit saja masalah menyentilku, dengan mudah air mataku beranak sungai.

Ah, ku rasa sekarang, aku terlalu rapuh, dan lunak, melebihi lunaknya spon mungkin. Memang terkadang masih terdengar nada berbicaraku yang agak tinggi, namun sudah jarang, sangat jarang malah.

Aku rindu dengan aku yang dulu, aku ingin kembali seperti dulu, biarlah orang menilai aku jahat, bagiku itu lebih baik. Daripada aku yang sekarang ini, yang sulit berkata ‘TIDAK’ ketika ada yg memaksa. Sering dibodohi, dianggap bernyali ciut, tak berani melawan bahkan demi kepentingan ku sendiri

“siapa yang bisa melunakkan si kepala batu sepertimu?”  “No more reman!” aku benar-benar tidak senang dengan kata2 itu.

Aku ingin kembali menjadi Si Kepala Batu. Bagaimanapun juga aku lebih senang disapa dengan julukan Reman.

Hei, kumohon, kembalilah padaku.

0 comments: